ads ads ads ads ads ads ads

Inilah Barang Loak Yang Banyak Digemari di Perancis



 DINI KUSMANA MASSABUAU. Barang loak di Perancis. 


Di Perancis, penggemar barang loak ternyata lumayan banyak. Bahkan boleh dibilang semakin meningkat setiap tahunnya. Bisa jadi karena faktor mode atau lebih ke arah kepuasaan pribadi. Yaitu bisa mendapatkan barang merk terkenal dengan harga murah tapi masih dalam kondisi baik.

Gelar barang loak ini bahkan menjadi sebuah tradisi bagi suatu kota. Seminggu sekali biasanya di setiap kota diadakan pasar loak. Misalnya di kota saya Montpellier, setiap hari minggu, digelar pasar loak besar sekali! Lapangan parkir stadiun bola sekelilingnya dipakai guna keperluan pasar barang bekas ini.

Penjualnya dari berbagai kalangan dari mulai penjual barang antik hingga pribadi. Pribadi dalam arti, kalangan umum yang hendak menjual beberapa barang milik mereka dengan alasan, tak ada lagi tempat di tempat tinggal mereka.

Saya sendiri pernah tiga kali ikutan gelar barang loak di pasar tersebut! Barang yang saya jual bersama suami macam-macam, pokoknya segala sesuatu yang sudah kami tak gunakan lagi dan bikin penuh isi rumah! Ehh lumayan hasilnya, padahal tujuannya bukan cari untung, asli ngosongin isi gudang. Biarpun kalau soal untung tak bisa ditakar apakah kami mendapatkan laba atau tidak, yang penting bagi kami saat itu adalah, menjual cepat dengan transaksi memuaskan kepada pembeli.

Gelar tikar yang dimulai dari pukul lima pagi, juga merupakan pengalaman yang unik, karena banyak para pengoleksi atau penjual barang antik, mereka datang dini hari untuk melihat-lihat siapa tahu ketemu barang bekas yang bernilai.

Sering kalangan umum tak engah, kalau barang bekas yang dijualnya berharga. Seperti kami ini, sebuah lukisan cetak milik dari nenek David alias kang Dadang, kami jual dengan harga lima euros, itupun karena ibu mertua yang memberi kepada kami untuk dibuang. Eh ternyata seminggu kemudian kami kembali ke pasar loak tersebut, untuk hunting barang bekas, kami dibuat kecut! Karena gambar lima euros yang kami jual menjadi lima puluh euros! Walahhh ternyata, gambar yang mau dibuang itu, bernilai toh, nasib!

Nah bicara soal barang bekas tapi bernilai ini, dekat dengan kota saya tinggal Montpellier ada sebuah kota yang terkenal sebagai tempatnya toko-toko barang antik. Nama kotanya yaitu Pezenas. Kota mungil namun ramai turis.

Begitu sampai di kota ini, sepanjang jalan kita disambut oleh toko-toko barang antik. Pemiliknya pun bukan hanya orang pribumi alias Prancis, tapi ada juga yang berasal dari Inggris, Belgia dan juga Asia. Barang yang di tawarkan kadang memang sering membuat orang geleng-geleng kepala, bagaimana tidak? Banyak barang yang sebenarnya milik nenek-kakek kita yang sudah kita buang karena dianggap sudah tua dan tak berfungsi, di sini malah ditawarkan dengan harga lumayan mahal.

Tapi yang menarik bukan karena banyaknya butik barang antik di kota ini, melainkan gelar pasar loak yang berlangsung satu hari penuh dan hanya dua kali dalam setahun. Minggu pertama di bulan Mei dan minggu kedua di bulan oktober. Pasar loak yang digelar sepanjang jalanan di kota ini, didatangi oleh pengunjung dari berbagai negara.

Begitu pula dengan penjualnya. Ramainya bukan main! Kebanyakan mereka menjual dengan cara gelar karpet di jalanan. Jadi bisa dibayangkan, sepanjang jalan kota isinya hanya para penjual dengan barang loak biasa hingga berharga! Dan kota pun tentunya tertutup bagi kendaraan. Sebisa mungkin, dua kali setahun itu kami datang mengunjunginya.

Kami yang terbiasa datang datang sudah hafal dengan trik untuk mendapatkan barang incaran kami. Tapi bagi pengunjung baru, biasanya mereka sering kalap dan takut menawar. Namun yang jadi masalah utama yaitu, kerap termakan oleh bualan si penjual. Barang tak terlalu berharga dibilang langka, antik dan bernilai tinggi, jadilah si pembeli cepat-cepat mengeluarkan uang takut kehilangan si barang. Ehhh tak tahunya, barang model itu, bisa ditemukan di tempat lain dengan harga lebih murah, karena memang bukan jenis barang yang hampir punah.

Kursi jebol dan besi karatan bernilai
Bicara soal barang, jenis yang di tawarkan memang bermacam-macam. Dari mulai pecah belah seperti perlengkapan makan hingga taplak meja antik. Dekorasi rumah, misalnya tirai jendela jaman dulu, lampu sampai karpet yang bahkan sudah sangat usang dan kadang bolong masih saja ditawarkan, dan anehnya ada saja yang bersedia membayar dengan harga mahal. Boneka atau mainan zaman dulu juga sering menjadi incaran para pengoleksi khusus.

Suatu kali anak sulung kami, Adam sempat tertarik dengan satu mobil miniatur Citroen tahun 50an. Tapi saya sampai tercengang ketika mendengar angka yang disebutkan si penjual. Untuk mobil miniatur itu dipasang harga 65 euros! Tentu saja, langsung saya suruh lepaskan mobil tersebut dari tangan anak saya. Lain lagi ceritanya ketika saya mendatangi penjual yang menggelar berbagai macam besi. Ketika saya dekati ternyata, besi-besi berkarat yang di jualnya itu berupa perkakas tempo dulu.

Sambil penasaran, saya tanyakan kepada bapak penjual, "Excusez-moi monsieur, combien vous vendez ce couteau?" (permisi pak, berapa anda menjual pisau ini?)
 "Ah ce couteau…il est à 45 euros, madame" (ah pisau ini, dia berharga 45 euros, nyonya).

Wahhh mahal benar, kata saya dalam hati, padahal pisau yang saya pegang itu benar-benar sudah berkarat dan sudah tidak rata lagi.

Melihat saya tak menjawab apalagi memulai harga penawaran, mulailah bapak penjual itu menceritakan asal usul pisau yang masih saya pegang. Menarik sekali memang, cerita yang dia dongengkan, tapi suami saya bilang kalau dia tidak percaya dengan karangan si penjual, tentunya kami menggunakan bahasa indonesia agar tak dimengerti bapak penjual. Benar saja, ketika saya meneruskan pemantauan barang antik lainnya, ternyata model pisau yang sama, bisa ditemukan di tempat-tempat lainnya.

Tapi jangan salah, ada memang barang yang berkarat habis, tapi memiliki nilai tinggi karena sudah sangat langka dan ada sejarah di baliknya. Bahkan kursi yang sudah jebol pun sering jadi rebutan orang. Memang sering kali meubel antik menjadi hal yang paling menarik di pasar ini, apalagi bila perabotan itu hasil karya perancang di masa itu yang sudah sulit ditemukan.

Tahun lalu saya mengajak orang tua saya yang sedang liburan di kota saya ke pasar antik terkenal ini. Kebetulan sekali mereka berkunjung di bulan Mei. Ibu saya sampai tercengang melihat panjangnya pasar yang di gelar, dan dia sangat menikmati sekali menjelajahi barang pecah belah khususnya yang terbuat dari kristal.

Soal harga menurutnya, sangat masuk akal bila dilihat kualitasnya, saya yang awam soal kristal percaya saja dengan dirinya yang memang mengincar barang berkilau ini selama bertahun-tahun. Malah ketika saya pulang untuk berlebaran, mangkok kristal dari pasar loak Pezenas itu terlihat anggun sekali di pajang dalam ruang tamunya.

Buku-buku bekas juga menjadi sasaran para pengunjung, sering saya menemukan komik bacaan saya ketika masih di sekolah dasar. Biasanya penjual buku bekas menjual juga kartu pos lama. Saya memang hobi sekali mengumpulkan kartu pos jaman dulu, selain gambarnya unik tanggal dicetaknya sangat penting bagi saya.
Tapi kartu pos yang saya beli selalu yang masih kosong tentunya. Nah di sini lain lagi, justru banyak yang sengaja membeli yang sudah di isi. Pada mulanya saya heran, tapi lama kelamaan saya baru mengerti, ternyata tanggal penulisan yang tertera dan juga isi suratnya yang masih dengan gaya tempo dulu mempunyai nilai tertentu, bagi para pengkoleksi.

Sejauh ini memang setiap kali saya mengujungi pasar antik itu, hanya barang kecil yang kami beli, tidak pernah barang besar seperti perabotan rumah. Karena bila membeli di penjual yang menggelar di jalanan, harus di ambil saat itu juga. Biasanya mereka yang benar-benar berniat sudah menyiapkan mobil khusus untuk mengangkutnya.

Empat tahun belakangan ini, seorang penjual yang ikut meramaikan pasar loak Pezenas menjual khusus barang antik dari Indonesia. Terus terang, saya sempat di buat tercengang karena kelenengan sapi yang sebenarnya tidak ada nilainya di daerah Kalimantan, dipajang bagaikan barang unik yang bermakna tinggi. Saat itu dia membawa sekitar sepuluh kelenengan sapi. Dan saya lihat beberapa mulai lenyap dibawa oleh pembeli.

Kang Dadang mulai ribut, karena baginya kelenengan itu memang unik. Karena si penjual tahu saya dari Indonesia, maka harga yang dilepasnya sangat masuk akal. Sekarang kelenengan yang harusnya melingkar di leher sapi, menjadi hiasan di pintu masuk kami.  Padahal terus terang mungkin sudah beribu-ribu kali saya bertemu pandang dengan barang itu setiap kali pulang kampung kerumah nenek ketika masih kecil. Ahhhh, malah sekarang saya harus membelinya dari orang asing.

Dan mata saya sempat bersinar saat melihat sebuah becak dipajang di depan toko antik. Saya panggil anak-anak kami, tapi begitu mendekat ternyata becak, transportasi saya waktu kecil itu sudah laris dijual di tangan orang Perancis, seharga 350 euros. Becak bekas itu berkali-kali menjadi daya tarik para pendatang di pasar loak tersebut.

Saya perhatikan dari tahun ke tahun, pengunjung yang datang ke pasar loak ini semakin ramai oleh peminat dari kalangan muda, bahkan kebanyakan dengan anak-anak mereka yang masih balita. Di suruhnya anak mereka, melihat berbagai mainan tempo dulu, ada bahkan yang dibelikan sepeda kayu zaman dahulu, tentunya masih layak dipakai.

Mereka bahkan begitu senang dapat membeli seperai, taplak hingga barang yang tak terpikirkan oleh saya untuk digunakan kembali karena sudah usang. Bagi mereka, barang loak lebih memiliki cerita dibaliknya. Kisah dari suatu barang menurutnya lebih berharga dan mereka sangat bangga memiliki barang bekas yang memberikan makna bagi si pemiliknya. (Dini Kusmana Massabuau) [travel.compas.com]
More aboutInilah Barang Loak Yang Banyak Digemari di Perancis

Masjid Agung Jawa Tengah

Oleh Amril Taufik Gobel

Bila Anda berkunjung ke Semarang, sempatkanlah untuk mampir di Masjid Agung Jawa Tengah yang terkenal dengan keindahan arsitektur dan kemegahannya. Berada di Jalan Gajah Raya, tepatnya di Desa Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Masjid fenomenal yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 14 November 2006 ini mulai dibangun pada 2001 dan mampu menampung tak kurang dari 15 ribu orang. Saat diresmikan, Presiden SBY menandatangani batu prasasti setinggi 3,2 m dan berat 7,8 ton yang terletak di depan masjid. Prasasti terbuat dari batu alam yang berasal dari lereng Gunung Merapi.

 
Photo credits - Ceppi Prihadi

Kompleks masjid terdiri dari bangunan utama seluas 7.669 m2 dan halaman seluas 7.500 m2. Paduan unik arsitektur Jawa, Timur Tengah dan Roma tergambar apik dari masjid yang juga merupakan obyek wisata terpadu pendidikan, religi, pusat pendidikan, dan pusat aktivitas syiar Islam. Lihat saja ornamen pada bagian dasar tiang masjid menggunakan motif batik seperti tumpal, untu walang, kawung, dan parang-parangan.

Ada enam payung hidrolik raksasa yang dapat membuka dan menutup secara otomatis, mengadopsi dari Masjid Nabawi di Kota Madinah. Ketika payung di halaman masjid dikembangkan, maka akan dapat menampung jamaah lebih banyak lagi, setidaknya lebih separuh dari kapasitas masjid. Pada dinding-dinding masjid tertera kaligrafi yang terukir indah. Ornamen-ornamen bernuansa arsitektur Italia terasa pula sentuhannya di beberapa bagian masjid. Bangunan utamanya beratapkan kubah besar, dilengkapi di bagian luarnya empat minaret (menara) yang runcing menjulang ke langit

 
Photo credits - Ceppi Prihadi

Sebuah replika beduk raksasa buatan para santri Pesantren Alfalah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas, Jawa Barat juga menghiasi masjid. Tidak hanya itu, Anda juga bisa menemukan Quran raksasa (Mushaf Al Akbar) berukuran 145 x 95 cm tulisan tangan karya Hayatuddin, seorang penulis kaligrafi dari Universitas Sains dan Ilmu Al-qur`an dari Wonosobo, Jawa Tengah.

Di sekeliling masjid terdapat bangunan pendukung lainnya, di antaranya: auditorium di sisi sayap kanan masjid yang dapat menampung kurang lebih 2000 orang. Auditorium ini biasanya digunakan untuk acara pameran, pernikahan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sayap kiri masjid terdapat perpustakaan dan ruang perkantoran yang disewakan untuk umum. Selain itu, terdapat juga berbagai macam sarana hiburan seperti air mancur, arena bermain anak-anak, dan kereta kelinci yang dapat mengantarkan pengunjung berputar mengelilingi kompleks masjid.

 
Photo credits - Ceppi Prihadi

Salah satu yang istimewa dari masjid ini adalah Menara Asmaul Husna (Al Husna Tower) dengan ketinggian 99 m. Menara dapat dilihat dari radius 5 km, terletak di pojok barat daya masjid. Di menara ini, pengunjung bisa menikmati pemandangan Kota Semarang termasuk lalu lalang kapal yang melintas maupun berlabuh di Pelabuhan Tanjung Emas melalui teropong pandang yang tersedia. Oh ya, bila Anda ingin menggunakan teropong ini mesti membayar sewa Rp 5000. Sedangkan untuk naik ke Menara, dikenakan tiket Rp 3000/orang (antara jam 08.00-17.30) dan naik menjadi Rp 4000/orang (jam 17.30-21.00). Di menara ini, tepatnya di lantai 18 juga dilengkapi Cafe Muslim. Yang menarik adalah lantai kafe itu bisa berputar 360 derajat selama 15 menit sehingga Anda bisa menikmati ragam pesona Kota Semarang dari ketinggian sembari menyantap makanan.

Untuk memasuki area masjid indah ini sama sekali tidak dikenakan biaya. Silakan menikmati eksotisme masjid kebanggaan masyarakat Jawa Tengah ini dengan menjelajahi setiap sudutnya. Anda akan melewati gerbang megah bernama Al Qanathir. Pintu gerbang itu memiliki 25 tiang sebagai simbolisasi jumlah nabi dalam Islam sebagai pembimbing umat. Pada pintu gerbang, terdapat ukiran kaligrafi Iafaz dua kalimat syahadat.

Untuk sampai ke masjid, hanya dibutuhkan waktu tempuh sekitar 15 menit dari alun-alun Kota Semarang. Jika mengendarai sepeda motor berkecepatan antara 40-60 km/jam, Anda hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Atau Jaraknya sekitar 800 meter dari Jalan Arteri Soekarno-Hatta yang merupakan jalan protokol.

Selamat berwisata religi ke Masjid Agung Jawa Tengah! [id.travel.yahoo.com]
More aboutMasjid Agung Jawa Tengah

Lautan Pasir Gunung Bromo

Oleh Amril Taufik Gobel

Keberadaan Gunung Bromo dengan lautan pasirnya yang fenomenal sudah cukup lama dikenal sebagai salah satu tujuan wisata terkemuka di Indonesia. Gunung Bromo merupakan salah satu gunung pada Pegunungan Tengger.

 
Photo credits - Rhamadian Qadafi/Portaltiga

Dengan ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut, panorama elok terpancar saat memandang pesona alam yang tidak akan pernah ada habisnya. Gunung Bromo berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti Brahma atau seorang dewa yang utama dan terletak dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang.

Daya tarik Gunung Bromo yang istimewa adalah kawah di tengah dengan lautan pasirnya yang membentang luas di sekeliling kawah Bromo, mengepulkan asap putih. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.

Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. Ketinggian yang relatif “rendah” untuk ukuran gunung membuat perjalanan menuju Gunung Bromo relatif mudah.

 
Photo credits - Rhamadian Qadafi/Portaltiga

Dari puncak gunung berapi yang masih aktif ini, Anda bisa menikmati hamparan lautan pasir luas, dan menyaksikan kemegahan gunung Semeru yang menjulang menggapai langit. Anda juga bisa menatap indahnya matahari beranjak keluar dari peraduannya atau sebaliknya menikmati temaram senja dari punggung bukit Bromo.

Untuk melihatnya, Anda harus menaiki Gunung Pananjakan yang merupakan gunung tertinggi di kawasan ini. Medan yang harus dilalui untuk menuju Gunung Pananjakan cukup berat. Untuk menuju kaki Gunung Pananjakan, Anda harus melalui daerah yang menyerupai gurun yang dapat membuat Anda tersesat. Saat harus menaiki Gunung Pananjakan, jalan yang sempit dan banyak tikungan tajam, tentu membutuhkan ketrampilan menyetir yang tinggi.

Untuk itu, banyak pengunjung yang memilih menyewa mobil hardtop (sejenis mobil jeep) yang dikemudikan oleh masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar berasal dari suku Tengger yang ramah dengan para pengunjung. Sampai di atas, ada banyak toko yang menyediakan kopi atau teh hangat dan api unggun untuk menghangatkan tubuh sambil menunggu waktu tebitnya matahari. Ada pula toko yang menyewakan pakaian hangat.

 
Photo credits - Rhamadian Qadafi/Portaltiga

Menyaksikan terbitnya matahari memang merupakan peristiwa yang menarik. Buktinya, para pengunjung rela menunggu sejak pukul 5 pagi menghadap sebelah timur agar tidak kehilangan momen ini. Anda pun tidak selalu bisa melihat peristiwa ini, karena bila langit berawan, kemunculan matahari ini tidak terlihat secara jelas.

Namun, saat langit cerah, Anda dapat melihat bulatan matahari yang pertama-tama hanya sekecil pentul korek api, perlahan-lahan membesar dan akhirnya membentuk bulatan utuh dan memberi penerangan sehingga kita dapat melihat pemandangan gunung-gunung yang ada di kawasan ini. Antara lain, Gunung Bromo, Gunung Batok, atau Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Sejarah terbentuknya Gunung Bromo dan gunung-gunung yang ada di sekitarnya berawal dari keberadaan Gunung Tengger (4.000 mdpl) yang merupakan gunung terbesar dan tertinggi saat itu.

Kemudian terjadi letusan dahsyat yang menciptakan kaldera dengan ukuran diameter lebih dari 8 kilometer. Material vulkanik letusan gunung sekarang berubah menjadi lautan pasir, konon material tersebut pernah tertutup oleh air. Aktivitas vulkanik dengan munculnya lorong magma mengakibatkan terbentuknya gunung-gunung baru seperti Gunung Bromo, Gunung Widodaren, Gunung Batok, Gunung Watangan, Gunung Kursi dan Gunung Semeru.

 
Photo credits - Rhamadian Qadafi/Portaltiga

Bromo memang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan panorama gunung lainnya. Di sekitar Bromo hingga puncak tidak ditemui tanaman hijau selain semak belukar. Gunung Bromo yang masih terdapat dalam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru juga merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan berupa lautan pasir seluas 5.250 hektare.

Untuk mencapai kaki Gunung Bromo, Anda tidak dapat menggunakan kendaraan. Sebaliknya, Anda harus menyewa kuda dengan harga Rp 70 ribu atau bila Anda merasa kuat, Anda dapat memilih berjalan kaki. Tapi, patut diperhatikan bahwa berjalan kaki bukanlah hal yang mudah, karena sinar matahari yang terik, jarak yang jauh, debu yang beterbangan dapat membuat perjalanan semakin berat.

Dari kaki gunung fenomenal itu, Anda harus menaiki anak tangga yang jumlahnya mencapai 250 anak tangga untuk dapat melihat kawah Gunung Bromo. Sesampainya di puncak Bromo , Anda dapat melihat kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap.

Anda juga dapat melayangkan pandangan ke bawah, dan terlihatlah lautan pasir dengan pura di tengah-tengahnya. Setelah berlama-lama di puncak, apabila pelancong sudah merasa kelaparan, di bagian bawah Bromo terdapat warung-warung yang menjajakan gudeg, mie instan, air mineral dan jajanan murah. .

Selain menyaksikan keindahan panorama yang ditawarkan oleh Bromo-Semeru, apabila Anda datang di waktu yang tepat, maka Anda dapat menyaksikan Upacara Kesodo, yang diadakan oleh masyarakat Tengger. Upacara ini biasanya dimulai pada saat tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kesodo [ke-sepuluh] menurut penanggalan Jawa.

 
Photo credits - Rhamadian Qadafi/Portaltiga

Upacara Kesodo merupakan upacara untuk memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit, yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo. Saat prosesi berlangsung, masyarakat Tengger lainnya beramai-ramai menuruni tebing kawah dan sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah, sebagai perlambang berkah dari Yang Maha Kuasa.

Ada beberapa tips yang perlu Anda perhatikan saat ke kawasan Gunung Bromo antara lain, Berkunjunglah pada musim kemarau, jangan musim penghujan, sehingga anda akan mendapatkan momen pemandangan yang sempurna. Siapkan pakaian pelindung dingin, seperti kerpus, slayer, syal, sarung tangan, jaket, dan jangan lupa sepatu karena cuaca disini cukup dingin. Bawalah juga kacamata untuk pelindung dari debu pasir selama di Segoro Wedi. Jangan berada di kawah Bromo di atas pukul 9 pagi untuk menghindari risiko keracunan.

Ada empat pintu gerbang utama untuk memasuki kawasan taman nasional Bromo Semeru ini yaitu: Desa Cemorolawang jika melalui jalur Probolinggo, Desa Wonokitri dengan jalur Pasuruan, Desa Ngadas dari jalur Malang dan Desa Burno adalah jalur Lumajang.

Adapun rute yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut:
- Pasuruan-Warung Dowo-Tosari-Wonokitri-Gunung Bromo menggunakan mobil dengan jarak 71 km,
- Malang-Tumpang-Gubuk Klakah-Jemplang-Gunung Bromo menggunakan mobil dengan jarak 53 km
- Malang-Purwodadi-Nongkojajar-Tosari-Wonokitri-Penanjakan sekitar 83 km

Selamat menikmati keindahan eksotis Gunung Bromo! [id.travel.yahoo.com]
More aboutLautan Pasir Gunung Bromo

Benteng Pertahanan Termegah di Asia

Oleh Amril Taufik Gobel

Adalah sebuah hal yang cukup beralasan bila seorang wartawan New York Times, Barbara Crossette pernah menggambarkan benteng  Fort Rotterdam di Makassar sebagai "the best preserved Dutch fort in Asia",  benteng Belanda yang paling terlestarikan di Asia. Saat berkunjung akhir tahun lalu, saya masih merasakan nuansa menawan benteng yang dibangun pada abad ke-17 ini. Peninggalan dari Kesultanan Gowa, benteng ini kokoh berdiri di pinggir pantai sebelah barat Makassar. 



Walau pada beberapa sisi terlihat kusam dengan lumut yang menempel pada dinding tembok benteng, kemegahannya masih terasa. Saat berdiri di depan gerbangnya yang kokoh saya mendadak membayangkan kehebatan Kesultanan Gowa membangun benteng ini. Dari 17 benteng yang dibangun di sekeliling kota, Fort Rotterdam merupakan benteng yang masih tersisa hingga saat ini dan masih terpelihara keasliannya.

Dari segi arsitektural benteng ini menampilkan bangunan berbentuk mirip penyu hendak merangkak turun ke lautan. Karena bentuknya mirip penyu, kadang benteng ini juga dinamai Benteng Panyua (Penyu), representasi kejayaan Kesultanan Gowa yang senantiasa meraih kemenangan di darat maupun laut.



Benteng Rotterdam dibangun pada 1545 oleh Raja Gowa ke-X yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Bahan dasar pembangunan benteng ini berasal dari batu dan tanah liat yang dibakar hingga kering. Pada 9 Agustus1634, Sultan Gowa ke-XIV (I Mangerangi Daeng Manrabbia dengan gelar Sultan Alauddin) membuat dinding tembok dengan batu padas hitam yang didatangkan dari pegunungan Kartz daerah Maros. Pada tanggal 23 Juni 1635, dibangun lagi dinding tembok kedua dekat pintu gerbang.

Sejarah mencatat, untuk memperkuat jalur perdagangan rempah-rempah serta memperluas kekuasaan, Belanda pernah menyerang benteng ini pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin antara 1655-1669. Dipimpin oleh Gubernur Jendral Admiral Cornelis Janszoon Speelman, pasukan Belanda menggempur Kesultanan Gowa selama setahun penuh.

Mereka dihadapkan pada perlawanan tangguh prajurit Sultan Gowa. Akibatnya, sebagian benteng hancur dan pasukan Sultan Hasanuddin menyerah. Akibat kekalahan tersebut Sultan Gowa dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Namanya kini diabadikan menjadi salah satu universitas negeri dan bandar udara internasional di Makassar.



Benteng yang sebagian hancur ini kemudian dibangun kembali oleh Gubernur Jendral Speelman dengan model arsitektur Belanda. Speelman menamakan benteng ini sama dengan nama tempat kelahirannya, Rotterdam. Bentuk benteng yang tadinya segi empat dengan empat bastion, ditambahkan satu bastion lagi di sisi barat.  Kehadiran benteng ini tidak hanya menjadi pusat pemerintahan Belanda di wilayah timur Indonesia namun juga menjadi pusat koordinasi perdagangan rempah-rempah Nusantara.

Sebuah patung warna putih yang menggambarkan Sultan Hasanuddin mengendarai kuda menyambut kedatangan pengunjung di benteng ini. Patung yang gagah, tapi sayangnya ada tangan-tangan nakal yang mencorat-coret beberapa bagian patung. Memasuki kawasan benteng, kita bisa langsung menuju Museum Lagaligo yang berisi peninggalan sejarah dan artefak-artefak budaya masa lalu, khususnya kerajaan Gowa-Tallo serta daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan.



Di dalam kawasan benteng terdapat pula ruang tahanan Pangeran Diponegoro. Menurut sejarah, Pangeran Diponegoro yang memimpin perlawanan pada Belanda antara 1825-1830 itu akhirnya ditangkap setelah dijebak oleh siasat licik penjajah untuk melakukan perjanjian damai. Pada 1834, Pangeran Diponegoro dibawa ke Fort Rotterdam setelah sebelumnya dibuang ke Manado. Di dalam sel penjara berdinding kokoh melengkung itulah Pangeran Diponegoro ditahan.

Banyak kalangan mempercayai sang Pangeran akhirnya wafat di Makassar, namun ada juga yang menyebutkan, untuk menghindari konflik jenazah Pangeran Diponegoro dipindahkan Belanda dan dimakamkan pada sebuah tempat yang dirahasiakan.

Sangat mudah mencapai benteng Fort Rotterdam karena letaknya di tengah kota Makassar. Anda bisa menggunakan angkutan umum atau taksi untuk mencapai tempat ini. Tidak ada pungutan bayaran apapun untuk memasuki benteng bersejarah yang kini menjadi salah satu obyek wisata andalan Sulawesi Selatan. [id.travel.yahoo.com]
More aboutBenteng Pertahanan Termegah di Asia

Pantai Megalitikum di Ujung Barat Sumba

Oleh Famega Syavira Putri

Sumba barat daya menunjukkan keindahannya melalui Kampung Ratenggaro. Kampung ini istimewa karena terletak pada sebuah tebing di tepi pantai Ratewoyo. Posisinya menghadap ke lautan lepas dengan ombak yang besar memecah karang. Lurus ke depan, tak ada lagi daratan hingga tiba di Afrika.

Kampung ini semula terletak di tanjung yang letaknya tepat di tepi pantai. Namun abrasi dan pasang laut menyebabkan air masuk ke rumah, sehingga penduduk memutuskan untuk memindahkan  kampung ke tebing yang lebih tinggi.

Pada bekas kampung di tepi pantai masih tersisa kumpulan kubur batu megalitikum. Bentuknya berbeda dengan kubur batu lempengan bertiang seperti di kota Waikabubak. Kubur batu yang ada di sini terbuat dari batu utuh dengan tinggi lebih dari dua meter dan dihiasi tulisan serta gambar kuno.



Duduk di samping kubur batu kuno menyaksikan pantai cantik dengan ombak berdebur, saya mengerti kenapa Sumba begitu dipuja akan kekayaan budaya dan kecantikan alamnya. Pantai berpasir putih lembut diapit karang dan tebing tinggi mengingatkan saya pada Tanah Lot di Bali. Tentu saja, pantai ini jauh lebih indah dan sangat sepi. Sayangnya saya datang saat mendung sehingga tak bisa menyaksikan senja.

Di pantai itu saya bertemu dengan bapak tua bernama Thomas yang memainkan alat musik tradisional yang terbuat dari kayu. Petikan dawainya menambah suasana magis yang rasa rasakan di tempat itu. Kelelahan akibat perjalanan dengan motor selama dua jam langsung hilang. 

Kampung tersebut terletak di daerah Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. Kodi ada di ujung barat pulau Sumba. Tempat ini berjarak sekitar 80 kilometer dari kota tempat saya menginap, Waikabubak. Dilihat di peta jalan ini agak memutar, tapi inilah jalan yang kondisinya paling baik.

Kali ini saya diantar oleh pemandu bernama Timoteus Pingge, penduduk asli Sumba. Meskipun dia bilang jalan yang kami lewati kondisinya paling baik, tetap saja kami harus melewati kubangan dan jalan berlubang. Sepanjang perjalanan kami bertemu rombongan anak-anak sekolah yang tersenyum ramah dan menyapa setiap pengendara yang berpapasan dengan mereka. “Siang ibu, siang bapa,” kata mereka. Awan mendung menggantung sehingga beberapa kali kami harus berteduh dari hujan.

Sawah, rumah di tepi jalan dengan kubur batu di halaman, jurang dan hutan menjadi suguhan yang menakjubkan untuk mata sepanjang perjalanan. Sebelum berangkat, kami membeli oleh-oleh penduduk desa. Rokok untuk bapak-bapak, sirih pinang untuk para ibu dan permen untuk anak-anak.

Tinggal di daerah yang begitu cantik tak banyak berpengaruh terhadap kesejahteraan warga kampung. Hanya segelitir dari mereka yang mencari penghidupan dari laut. Apalagi, kampung ini hanya terdiri atas lima rumah adat. Kebakaran yang terjadi empat tahun lalu membakar nyaris seluruh rumah di kampung. Dari 13 rumah, hanya satu yang selamat.

Kampung adat Sumba memang punya risiko kebakaran yang tinggi. Atap rumah yang terbuat dari ilalang mudah terbakar pada musim kemarau. Api menjalar terbawa angin, sehingga kebakaran biasanya memusnahkan seluruh rumah di kawasan.

Membangun ulang rumah adat tidak murah. Warga kampung bercerita bahwa sebuah rumah membutuhkan empat tiang utama agar tetap tegak berdiri. "Satu kayu harganya sama dengan seekor kerbau besar," kata para penghuni kampung. Itu baru biaya untuk tiang utama, belum menghitung biaya untuk membangun dinding, lantai dan atap. Selain biaya yang mahal, bahan-bahan yang semula mudah didapat dari hutan kini semakin sulit dicari.

Selanjutnya saya mengunjungi Kampung Paronabaroro. Kondisi kampung di daerah ini berbeda dengan kampung yang saya jelajahi di kota Waikabubak sebelumnya. Letaknya yang terpencil membuat kampung ini masih sangat sederhana.  Kepercayaan Marapu masih dipegang erat oleh para penghuninya.


Perempuan tua mengenakan kain tanpa penutup dada. Pria dan wanita mengunyah sirih pinang yang membuat ludah mereka berwarna merah kesumba. Kebiasaan ini dimulai sejak umur belasan dan membuat bibir nampak merah seakan memakai gincu. Kuda tertambat di samping rumah sebagai lambang status sosial keluarga.

Jalan masuk menuju kampung ini berupa jalan setapak sepanjang kira-kira 4 kilometer. Pada bagian depan kampung terdapat tanah lapang penuh kubur batu yang lebih baru. Sebagian sudah dimodifikasi dengan menggunakan semen, bukan lagi batu utuh.

Kubur batu dengan usia lebih tua terletak di bagian tengah kampung. Kompleks kubur batu mengelilingi sebuah altar tempat pelaksanan upacara adat. Tak sembarang orang boleh menginjakkan kaki ke tempat yang dianggap keramat itu.

Listrik baru saja masuk di kawasan ini pada akhir bulan Januari. Sumber listrik berasal dari genset yang bahan bakarnya diisi dengan cara patungan dengan beberapa kampung di sekitar. Untuk menghemat biaya, mereka hanya menggunakannya pada malam hari. [id.travel.yahoo.com]
More aboutPantai Megalitikum di Ujung Barat Sumba